|
|
|
Saturday, April 28, 2007
Transmisi Teks dalam Sebuah Naskah
Proses penurunan (transmision) sebuah teks dapat dibedakan ke dalam dua cara: (a)
Transmisi teks melalui penyalinan; (b) Transmisi teks melalui penyaduran.
Transmisi teks melalui penyalinan dalam arti teks sebuah naskah diturunkan ke
dalam naskah lainnya dengan cara penulisan kembali teks tanpa merubah bahasa,
aksara, dan bentuk teks yang digunakan dalam naskah sebelumnya. Transmisi teks
melalui penyaduran dalam arti teks sebuah naskah diturunkan ke dalam naskah
lainnya dengan cara penggubahan kembali teks ke dalam bahasa, aksara, dan atau
bentuk teks yang berbeda dari naskah sebelumnya.
Ada beberapa kemungkinan yang terjadi dalam
aktivitas penyalinan sebuah naskah: (1) Penyalin menyalin naskah dengan
memperhatikan secara seksama tiap bentuk aksara dalam naskah yang disalinnya.
Hal ini dimungkinkan karena, antara lain: (a) Penyalin tidak tahu akan aksara
dan/atau bahasa dalam naskah yang disalinnya; (b) Penyalin tahu akan aksara
dan/atau bahasa dalam naskah yang disalinnya, tetapi tetap menyalin dengan memperhatikan
secara seksama tiap bentuk aksara dalam naskah yang disalinnya demi menjaga
kesamaan bentuk aksara yang digunakan. (2) Penyalin menyalin naskah sudah tidak
lagi memperhatikan secara seksama tiap bentuk aksara dalam naskah yang
disalinnya, tetapi penyalin langsung menyalin naskah dengan memperhatikan tiap
kata per kata. Hal ini dimungkinkan karena penyalin tahu akan aksara dan/atau
bahasa dalam naskah yang disalinnya. Aktivitas penyalinan seperti ini akan
menghasilkan naskah salinan berupa: (a) naskah salinan dengan aksara dan bahasa
yang sama, (b) naskah salinan dengan aksara yang berbeda tetapi dengan bahasa
yang masih sama. Lebih lanjut bisa dikatakan bahwa aktivitas penyalinan yang
menghasilkan naskah salinan dengan aksara yang berbeda tetapi dengan bahasa
yang masih sama seperti dalam point (2b) di atas itu sudah termasuk ke dalam
transmisi teks melalui penyaduran bukan lagi transmisi teks melalui penyalinan.
Penting sekali untuk mengetahui proses transmisi teks
dalam sebuah naskah. Hal ini erat kaitannya dengan penentuan kasus salah tulis
yang terjadi dalam kegiatan menyunting sebuah naskah. Dengan demikian, sudah
semestinya ada beberapa perbedaan kasus salah tulis yang terjadi dalam sebuah
naskah hasil dari transmisi teks melalui penyalinan dengan transmisi teks
melalui penyaduran.
Transmisi Teks dalam Sebuah Naskah
Dikirim pada 12:03 am oleh [Candra T. Munawar]
Permalink
Friday, January 26, 2007
Kerja kritik teks dalam hal ini berusaha untuk
mengurai kembali proses penurunan sebuah teks, menelusuri kembali urutan-urutan
penurunannya dan berusaha untuk mengembalikan teks-teks tersebut sedekat
mungkin sesuai dengan bentuk aslinya.
The business of textual criticism is in a sense to
reverse this process, to follow back the threads of transmission and try to
restore the texts as closely as possible to the form which they originally had.
(Reynolds, L.D & N.G. Wilson, 1989: 186).
Naskah-naskah itu berlainan dalam hal tingkat
kepercayaannya sebagai saksi atas teks-teks aslinya; semuanya sampai pada taraf
tertentu di dalam proses penurunannya mengalami perubahan, apakah itu dari
kerusakan fisik (physical damage), kelalaian si penyalin (the fallibility of
scribes), maupun dari pengaruh-pengaruh penambahan (interpolation) yang
dilakukan dengan sengaja.
These manuscripts vary in their trustworthiness as
witnesses to the original texts; all of them have suffered to some degree in
the process of transmission, whether from physical damage, from the fallibility
of scribes, or from the effects of deliberate interpolation. (Reynolds, L.D
& N.G. Wilson, 1989: 186).
PERUBAHAN-PERUBAHAN (CORRUPTION)
Untuk menyarikan kebenaran dari bukti naskah yang
ada, para filolog harus memiliki sejumlah pengetahuan mengenai beberapa jenis
perubahan yang terjadi. Sebab utama dari adanya perubahan adalah ketidakmampuan
para penyalin untuk membuat salinan yang akurat dari teks yang ada di
hadapannya. Sebagian besar kesalahan-kesalahan itu bersifat tak disengaja,
namun di akhir uraian ini, kami menunjukkan sebuah pengelompokan penting yang
menyatakan bahwa hal tersebut tidak benar. Meskipun pada awalnya mengherankan
bahwa para penyalin sangat sering tidak mampu berkonsentrasi, setiap orang
mungkin akan segera membuktikan lewat percobaan yang dilakukannya sendiri
seberapa sulitnya untuk membuat salinan yang sepenuhnya akurat bahkan dari
sebuah teks yang pendek sekalipun. Jika benar kelalaian selama menyalin dengan
menggunakan tangan yang terjadi di sepanjang waktu itu adalah satu-satunya cara
penurunan, maka mungkin adalah sesuatu yang luar biasa dimana teks-teks yang
lebih kuno tidak mengalami perubahan hingga ke sebuah kondisi yang sulit untuk
dibaca. Terdapat banyak potensi yang berbahaya di hadapan para penyalin jika ia
sekali saja membiarkan perhatiannya berpaling. Beberapa dari kemungkinan
tersebut dicantumkan di dalam daftar di bawah ini. Keseluruhannya akan
ditunjukkan melalui sebuah pemilihan kecil beberapa teks yang terbagi ke dalam
kategori teks yang masih kasar dan kategori teks yang siap baca. Harus
ditekankan bahwa kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan para penyalin
tidak pernah menjadi bahan penelitian dalam bidang statistika, dan oleh karena
itu tidak mungkin membuat dengan beberapa kadar ketepatan relatif sebuah
frekuensi berbagai jenis kesalahan. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan
adalah bahwa penempatan sebuah kesalahan ke dalam sebuah golongan tidaklah
selalu semudah seperti yang terlihat. Kasus-kasus muncul yang mana hal itu
mungkin mengaitkan sebuah kesalahan ke dalam salah satu atau ke dalam
gabungannya dari bebagai jenis kesalahan yang ada. Pertimbangan ketiga yang
perlu diingat adalah bahwa tidak semua sebab kesalahan berjalan setiap saat.
Sebagai contohnya adalah penggunaan beberapa singkatan yang kemungkinan besar
memunculkan kesulitan untuk para penyalin dapat ditempatkan di dalam
batas-batas kronologis atau geografis.
1. Kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh
ciri tulisan tangan kuno atau abad pertengahan dapat diambil sebagai sebuah
golongan kesalahan yang pertama. Mungkin muncul dugaan bahwa kelompok ini jauh
lebih banyak daripada kelompok kesalahan lainnya, namun penelitian mendalam
memunculkan keraguan atas pandangan tersebut. Sebab-sebab umum kesalahan di
dalam kelompok ini adalah (i) kurangnya pemisahan antar kata-kata di dalam
banyak naskah, (ii) sangat miripnya huruf-huruf tertentu di dalam sebuah naskah
yang menyebabkan kebingungan, (iii) salah membaca sebuah singkatan; terlepas
dari tanda-tanda biasa yang mewakili suku-suku kata atau kata-kata singkat yang
umum, terdapat sebuah metode khusus penyingkatan kata untuk istilah-istilah
penting tertentu dalam teologi Nasrani; yang dikenal sebagai nomina sacra, dan
seringkali terdapat di dalam teks-teks bangsa Yunani maupun teks-teks Latin.
Pada kedua bahasa tersebut, penyingkatan-penyingkatan kata begitu banyak dan
kompleks sehingga penelitian terhadapnya membentuk subjek sendiri di dalamnya
(Plate V). (iv) Karena angka-angka dilambangkan lewat huruf-huruf pada kedua
bahasa, maka tak jarang angka-angka tersebut disampaikan dengan salah, sebuah
fakta yang menjadi hambatan serius untuk para filolog sejarah dan ekonomi.
Barangkali satu yang dapat ditambahkan di sini (v) kebingungan yang berasal dari
dua kata yang memiliki bentuk atau pengejaan yang serupa bahkan ketika tidak
terdapat penyebab rasa bingung langsung dalam bentuk huruf-huruf yang terpisah.
2. Perubahan-perubahan lain dihasilkan dari
perubahan-perubahan dalam pengejaan dan pengucapan. Misalnya, di dalam bahasa
Latin modern, bunyi ae dan e menjadi identik, sementara b disuarakan sebagai
sebuah suara mendesah (fricative) dan hampir sama dengan v. Di dalam bahasa
Yunani, beberapa huruf hidup (vowel) dan diptong direduksi ke dalam sebuah
suara iota, seperti dalam bahasa modernnya. Kesalahan yang disebabkan oleh
perubahan ini disebut sebagai iotakisme. Beta menjadi bersifat fricative
seperti dalam bahasa Yunani modern dan begitu juga upsilon dalam
diptong-diptong. Perbedaan antara omikron dan omega tidak ada lagi. Diptong
alfa-iota serupa dengan epsilon. Kesalahan-kesalahan dalam bidang ortografis
paling sering terjadi, namun sebagian besar dari kesalahan-kesalahan tersebut
tidak penting untuk penetapan teksnya dan tidak tercatat di dalam metodenya.
3. Penghilangan (omisi) merupakan golongan
besar kesalahan yang ketiga. Sekali lagi, di sini pembagian dapat dilakukan.
Kadang-kadang kita menemukan (i) penghilangan tidak lebih dari beberapa huruf;
jika hal ini terjadi di dalam sebuah paragraf dimana si penyalin menulis sebuah
rangkaian huruf-huruf hanya sekali ketika rangkaian huruf-huruf tersebut
seharusnya diulangi, istilah haplografi digunakan. Kesalahan ini muncul jika si
penyalin bergerak terlalu cepat dalam tugasnya, dan sebuah bentuk kesalahan lain
yang serupa kadang-kadang disebut sebagai (ii) saut du même au même. Di sini,
si penyalin, menemukan kata yang sama dua kali di dalam sebuah jarak yang
berdekatan, menyalin teksnya sepanjang kemunculannya yang pertama; kemudian
melihat kembali di salinannya untuk melihat apa yang ia harus salin
selanjutnya, ia secara ceroboh menempatkan posisi kedua matanya pada kemunculan
kedua kata tersebut dan memulai dari titik tersebut. Sebagai akibatnya,
kata-kata yang ada di antaranya dihilangkan dari salinannya. Kesalahan-kesalahan
juga disebabkan jika dua kata dalam jarak yang berdekatan memiliki awal atau
akhir yang sama; istilah teknis untuk kesalahan-kesalahan tersebut adalah
homoearkton dan homoeoteleuton. Kesalahan pandangan mata yang sama menyebabkan
kesalahan-kesalahan yang serupa yang sesuai untuk mencantumkannya sebagai
sebuah kategori yang sedikit berbeda, (iii) penghilangan seluruh baris dalam
teks. Kesalahan ini seringkali ditemukan di dalam naskah-naskah para penyair,
dan nilai informatif untuk para filolog yang mencoba untuk menciptakan sebuah
stemma jelas terlihat. Selain itu, contoh-contoh yang lain dapat ditemukan di
dalam teks-teks prosa. Namun demikian, harus ditambahkan bahwa sejumlah besar
penghilangan-penghilangan terjadi tanpa alasan yang jelas terkecuali kelalaian
si penyalin; kesalahan ini sering terjadi pada kata-kata yang kecil.
4. Kelompok yang keempat dapat diistilahkan
sebagai kesalahan-kesalahan penambahan (adisi). Yang paling sederhana adalah
tidak lebih dari pengulangan beberapa huruf atau suku kata, yang disebut
sebagai (i) dittografi. Yang paling banyak adalah penambahan terhadap teks yang
bersifat menjelaskan atau materi illustratif. Jenis yang paling sering terdapat
dalam kategori ini adalah (ii) penambahan sebuah keterangan (gloss). Sebagian
besar naskah-naskah bangsa Yunani memiliki sejumlah catatan interlinier singkat
yang menjelaskan kata-kata yang langka atau sulit. Keterangan-keterangan
tersebut dengan mudah ditambahkan ke teks-teks di sepanjang proses penulisan.
Di dalam puisi, sebuah penambahan sederhana jenis ini dapat segera menjadi
jelas dikarenakan kekuatan yang diberikannya ke iramanya; namun kadang-kadang
kata yang digunakan sebagai sebuah keterangan memiliki nilai irama yang sama
seperti kata di dalam teksnya dan menggantinya tanpa merusak iramanya, dan
contoh-contoh proses ini tidaklah mudah untuk dideteksi. Pendeteksian (iii)
keterangan-keterangan di dalam sebuah teks prosa seringkali adalah yang paling
sulit. Banyak paragraf-paragraf memuat frase-frase yang bersifat menjelaskan
yang tidak terlalu dibutuhkan namun tidak merusak tata bahasa atau
sintaksisnya. Frase-frase tersebut menghadirkan masalah-masalah yang masing
tetap tidak dapat dipecahkan. Dua teks yang oleh para filolog baru-baru ini
telah membahasnya secara mendetail dalam kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan
tersebut adalah Satyricon karya Petronius dan Tusculan Disputations karya
Cicero. (iv) sebuah perubahan yang langka namun menarik adalah penambahan ke
sebuah teks sebuah bagian yang paralel yang aslinya ditulis di dalam pinggiran
sebuah buku oleh seorang pembaca yang terpelajar. Hal ini dapat terjadi di
dalam sajak atau prosa. Kasus-kasus diketahui dari tragedi bangsa Yunani, dan
Galen (17(I).634) memberitahukan bahwa proses tersebut telah terjadi di dalam salah
satu perjanjian Hipokratik.
5. Kesalahan-kesalahan perubahan kedudukan
(transposisi) adalah golongan yang terkenal lainnya. (i ) perubahan kedudukan
huruf-huruf sering terjadi. (ii) di dalam puisi, syair-syairnya seringkali
disalin dalam urutan yang salah. (iii) pada semua jenis teks susunan kata
seringkali mengalami perubahan. Banyaknya perubahan ini cukup besar sehingga
kita dapat menyatakan bahwa inferensi-inferensi susunan kata dalam prosa Latin
dan Yunani harus dilakukan dengan sangat cermat. Di dalam teks-teks Yunani baik
syair maupun prosanya, terdapat beberapa sebab khusus yang menyebabkan
perubahan kata selama abad pertengahan. (iv) Salah satu teks yang mengalami
perubahan tersebut adalah tragedi. Sebuah irama yang ditemukan di dalam Byzantium
adalah baris dua belas suku kata yang kurang lebih seperti baris iamb klasik
namun memiliki aturan-aturan yang berbeda-beda, yang paling penting adalah
bahwa suku kata suku kata yang kedua dari belakang harus memuat aksen (pada
saat itu, sebuah akses penekanan). Sebagai akibatnya, beberapa penyalin merubah
baris-baris dalam tragedi, mungkin secara tidak sengaja, untuk membuatnya
sesuai dengan aturan ini. Proses ini dikenal sebagai vitium Byzantium. (v) Di
dalam prosa Bizantium, terdapat sebuah aturan yang merubah susunan kata-kata;
secara umum aturan tersebut mengharuskan bahwa dua suku terakhir yang diberi
penekanan dari sebuah kalimat harus dipisahkan oleh dua atau empat suku kata
yang tak diberi penekanan (dalam kasus-kasus tertentu nol atau enam suku kata).
Pengaruh dari perubahan ini kadang-kadang terlihat di dalam naskah-naskah para
penulis prosa klasik.
6. Di dalam kelompok yang keenam seseorang
dapat memasukkan kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh konteksnya. (i)
infleksi sebuah kata mungkin saja diasimilasi secara salah ke dalam sebuah kata
yang berdekatan. (ii) para penyalin yang membiarkan diri mereka sendiri
dipengaruhi oleh kata-kata atau frase yang telah mereka salin sebelumnya atau
baru saja akan disalin.
7. Beberapa kesalahan membuang pengaruh
ajaran Nasrani. Mengingat bahwa semua penulis di Abad Pertengahan rata-rata
penganut taat Nasrani, maka hal ini sangat mengejutkan jika mereka berhasil
menyalin ribuan naskah tanpa melakukan kesalahan-kesalahan seperti ini.
8. Juga terdapat golongan kesalahan yang
berasal dari aktivitas penyalin yang disengaja. Seperti yang telah terlihat
sebelumnya, para pembaca zaman kuno dan abad pertengahan mencoba untuk
mengkoreksi paragraf-paragraf yang mereka rasakan sulit atau rusak, dan
usaha-usaha mereka kadang-kadang salah atau tak cermat. Contoh dari hal ini
adalah Tricilinus yang merusak beberapa syair Euripidean karena ia mengetahui
bahwa responsi irama harus dikembalikan ke asalnya, namun tidak cukup memiliki
pengetahuan tentang bahasa puisi klasik untuk membuat
pengkoreksian-pengkoreksian yang benar. Pengkoreksian yang salah ini seringkali
disebut sebagai interpolasi-interpolasi, meskipun istilah ini tak terlalu
cocok. Perubahan secara sengaja pada skala yang lebih besar dapat dilihat dalam
usaha-usaha untuk membuang bagian sebuah teks. Namun demikian, proses ini tak
terlalu banyak dilakukan, seperti yang mungkin diduga. Di sini tampaknya para
kepala sekolah dari zaman kuno atau Abad Pertengahan tidak seantusias para
editor yang lebih modern untuk menghilangkan paragraf-paragraf yang cabul atau
memalukan. Pemotongan-pemotongan yang ditemukan di dalam beberapa cetakan buku
sekolah modern Arisophanes tidak terlihat diantisipasi di dalam naskah-naskah
abad pertengahan. Namun terdapat naskah-naskah Herodotus yang mengabaikan
cerita prostitusi yang dilarang di I.I99 dan terdapat sebuah kelompok
naskah-naskah Martial dimana di dalamnya beberapa muatan cabul terlihat jelas
digantikan oleh kata-kata yang tak terlalu vulgar. Jenis interpolasi yang lain,
tidak disebabkan oleh para penyalin, disebabkan oleh para aktor dalam teks-teks
tragedi Yunani (lihat hal. 14-15).
Beragamnya sebab-sebab kesalahan memunculkan
konsekuensi-konsekuensi tentang arti pentingnya seorang pengkritik. Ia tidak
dapat melakukan usahanya dalam pemikiran bahwa salah satu golongan kesalahan
adalah dominan. Pada prakteknya, para filolog tampak mengasumsikan bahwa
kesalahan-kesalahan yang muncul dari sebab-sebab palaeografis adalah yang
paling sering muncul; pastinya ini adalah kesimpulan yang didapat dari berbagai
dan tak jarang penyesuaian-penyesuaian palaeografis yang dilakukan dengan
sengaja yang menyertai pengkoreksian-pengkoreksian yang ditawarkan.
Satu-satunya metode yang aman adalah dengan mengikuti aturan yang diucapkan
secara eksplisit oleh Haupt, dan diulangi oleh Housman: 'syarat utama dari
sebuah pengkoreksian yang baik adalah bahwa pengkoreksian tersebut harus
dimulai dari pemikirannya; hanya setelah pertimbangan-pertimbangan lain,
seperti tentang irama, atau kemungkinan-kemungkinan lain, seperti kesaling
tertukaran huruf-huruf, diperhatikan . . .Jika pendirian ini mengharuskannya,
Saya melakukan persiapan untuk menulis Constaninopolitanus dimana MSS.nya
memiliki kata seru dengan satu suku kata o'. Untuk menekankan uraian mereka,
Haupt dan Housman mengutip sebuah contoh yang ekstrim. Faktanya ketika seorang
kritikus telah menetapkan sebuah keputusan berdasarkan pemikiran bagaimana
sebuah paragraf yang korup dapat dikembalikan ke asalnya, ia mempertimbangkan
berbagai kemungkinan dalam kaitannya dengan jenis-jenis kesalahan yang
dicantumkan di atas dan mendapat pengaruh dari jenis-jenis kesalahan tersebut
ketika ia memilih di antara pemulihan-pemulihan teks yang berbeda. Ketika
perubahan yang serius telah berlangsung, mungkin dibutuhkan memberikan tanda di
antara obeli (††), di dalam teks asalnya dan memperlihatkan di dalam metodenya
perkiraan-perkiraan yang terbaik; pada paragraf tersebut kepastian tidak dapat
diperoleh bahkan dengan perbekalan kritikus yang tertajam.
KESIMPULAN
Di dalam tulisan mengenai fungsi dan metodologi
kritik teks, kami telah menguraikan beberapa prinsip dan kriteria yang paling
sering muncul dan paling banyak digunakan dengan berhasil oleh mereka yang
berusaha untuk membalikkan proses penyampaian dan mengembalikan lagi ke asalnya
kata-kata kuno semirip mungkin ke bentuk aslinya. Dalam rangka untuk mengurangi
panjangnya sebuah bab sebuah subjek yang biasanya memuat sebuah buku dan bahkan
kemudian tidak lebih dari sebuah panduan, kami telah membatasi laporan kami
hanya tentang teknik-teknik dasar dan yang telah dicoba. Hal ini pastinya akan
memberikan kesan bahwa kritik teks adalah sebuah proses yang lebih teratur dan
lebih jelas daripada jika dibuktikan lewat praktek. Meskipun prinsip-prinsip
umum tak diragukan lagi banyak digunakan, masalah-masalah khusus memiliki
kebiasaan yang disayangkan dengan menjadi sui generis, dan secara hampir sama
kita jarang menemukan dua tradisi naskah yang merespon terhadap perlakuan yang
sama.
Salah satu penghilangan (omisi) jelas terlihat.
Meskipun memberikan ruang kepada keterbatasan-keterbatasan teori stematik, kami
tidak menelaah metode-metode yang rumit dan kadang-kadang kontroversial yang
telah diciptakan untuk menangani tradisi-tradisi yang telah tercemar. Semakin
terbuka sebuah tradisi, semakin kurang bermanfaat pendekatan stematik, dan
metode-metode lain harus dicoba. Metode-metode tersebut berkisar mulai dari
pendekatan-pendekatan empiris, akal sehat yang menerima adanya kebutuhan dari
sebuah dunia yang tidak sempurna, untuk menggabungkan teknik-teknik statistik
yang bertujuan untuk memunculkan hasil-hasil yang lebih objektif. Pada beberapa
kasus, kita dapat menggunakan sebuah modifikasi yang fleksibel dari metode
genealogisnya. Naskah-naskah tersebut digolongkan sepanjang masih dapat
masukkan ke dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan si editornya memilih
bacaan-bacaannya secara bervariasi, yang didorong lebih oleh kualitas
intrinsiknya daripada oleh pertimbangan-pertimbangan afiliasi dan kekuasaan dan
memperhatikan keseimbangan faktor-faktor tersebut untuk menyesuaikan dengan
sifat tradisinya. Namun jika kontaminasi telah berlangsung begitu jauh,
sehingga dalam ungkapan Housman, 'garis pembatas yang sesungguhnya adalah
antara perbedaan itu sendiri, bukan antara naskah-naskah yang memberikannya,'
berbagai pendekatan dapat digunakan yang semua semuanya cenderung untuk
memusatkan pada perbedaan-perbedaan itu sendiri bukan pada naskah-naskah yang
memuat perbedaan-perbedaan itu. Proses ini mungkin membutuhkan teknik-teknik matematik
yang rumit, yang sangat menarik di saat sekarang, dimana saat ini perkembangan
komputer dan peralatan-peralatan mekanik dan elektronik semacamnya telah
membuat teknik-teknik tersebut lebih mudah untuk dikerjakan. Kami tidak
melaporkan metode-metode distribusional dan statistik, yang akan menjadi sebuah
pengkajian tersendiri, tidak juga pengautomatisasiannya, yang masih sedang
berada dalam tahapan eksperimental dan telah menghasilkan sebuah kumpulan
literatur yang belum dapat dipahami oleh sebagian besar para mahasiswa ilmu
sastra. Masih belum jelas apakah teknik-teknik rumit yang menggunakan mesin,
seberapa valid sebagai sebuah studi teoritis, akan memunculkan hasil-hasil
praktis yang membenarkan tenaga dan pengeluaran yang dibutuhkannya atau benar-benar
unggul terhadap hasil-hasil yang diperoleh dari sarana-sarana tradisional dan
'sifat komputer itu sendiri, yang bertempat di antara kedua telinga para
penelitinya.' Dalam setiap kasus, masa depan mereka tampaknya berada lebih di
bidang-bidang alkitab dan kependetaan dan pada bahasa-bahasa lokal daripada
pada teks-teks klasik, dimana materinya lebih mudah dikontrol dan sering dapat
dikontrol lewat metode-metode tradisional yang disertai dengan penggunaan
bantuan ilmiah yang terbatas. Pada akhirnya, perlengkapan dasar yang penting
adalah perasaan, penilaian dan akal sehat dan kemampuan untuk membedakan apa
yang benar dari apa yang salah di dalam sebuah konteks tertentu; dan kesemuanya
masih terdapat dalam kesadaran manusia. Namun ketika dimana tradisinya besar
dan kompleks, komputer dapat bermanfaat digunakan dalam membangun sebuah
gambaran sementara mengenai kesalingketerkaitan teks-teks. Di luar bidang
resensi, mesin-mesin dapat digunakan, jika terdapat kehati-hatian yang besar,
di dalam studi-studi tentang gaya, dan mesin-mesin tersebut telah terbukti
bermanfaat untuk memperoleh informasi dan dalam membuat indeks; dan hasil dari
aktivitas-aktivitas tersebut memiliki keterkaitan yang sesungguhnya pada
pengeditan teks-teks.
Dikirim pada 02:51 pm oleh [Candra T. Munawar]
Permalink
Thursday, January 25, 2007
Berdasar pada kebiasaan saya sebagai seorang typist (pengetik) di salah satu penerbitan swasta di Bandung, saya sampai pada salah satu praduga kenapa penulis melakukan kesalahan berupa omisi (penghilangan) aksara dalam kata yang dituliskannya, yaitu karena kata-kata yang hendak dituliskan hadir berkesinambungan dengan cepat dalam benak penulis yang berbanding terbalik dengan kecepatan tangan dalam menuliskannya.
Kasus salah tulis berupa penambahan (adision) dan pengurangan (omision) pada berbagai teks tercipta
bukan karena dalam aktivitas penurunan sebuah teks saja, tetapi lebih dari itu:
Kasus adisi dan omisi terjadi pada setiap aktivitas menulis pada umumnya.
Dikirim pada 02:23 pm oleh [Candra T. Munawar]
Permalink
Serat Paramayoga: Beberapa Kutipan
Sehubungan dengan penelitian yang sedianya
akan saya laksanakan pada tahun 2007 ini, di bawah dicatat beberapa
kutipan yang menginformasikan perihal naskah Serat Paramayoga
yang menjadi sumber penggubahan (baca: penyaduran) dari Kitab
Paramayoga yang akan saya teliti nanti. Beberapa kutipan itu sebagimana
tertulis di bawa ini:
L286 Serat Paramayoga SK—127—170—Bhs Jawa—Aks Jawa—Prosa—Rol 138—no. 3 Karya
Ranggawarsita yang dengan gayanya sendiri menceritakan genealogi para
nabi mulai dari Nabi Adam, para dewa sampai dengan Ajisaka di tanah
Hindustan. Edisi Serat Paramayoga ini pernah diterbitkan oleh A. Rusche, di surakarta pada tahun 1884 (Pratelan I:345-348).[1] Menurut
keterangan kolofon (h. iv), naskah disalin dari buku cetak oleh Ng.
Dermapermuja, "abdidalem mantra ngampil," pada tahun 1888 (penanggalan
Jawa dan Masehi yang diberikan berselisih 9 hari). Kertas yang
dipergunakan dalam penyalinan naskah ini bukan kertas impor yang bercap
air seperti biasanya dipakai pada dasawarsa 1880, tetapi kertas tebal
yang lebih sering dijumpai dalam naskah salinan tahun 1910-an (?). Pada h. i-iii terdapat bermacam-macam abjad antara lain abjad Bugis, Buda, "aksara sandi lami, tengah, enggal, Maospait." (Behrend, 1990: 381-382) Menurut Poerbatjaraka, isi kitab Paramayoga ini merupakan saduran dari isi Serat Kanda yang diperkirakan merupakan karya eyang buyutnya (Yosodipuro I) yang telah beredar sebelumnya. Di tangan Ronggowarsito, Serat Kanda
itu disadur sedemikian rupa dan ceritanya disesuaikan dengan situasi,
keadaan zaman serta beberapa informasi dan pengetahuan yang dimiliki
dan didengar oleh Ronggowarsito (Poerbatjaraka, 1952:158). Mengenai kapan Paramayoga
ini ditulis oleh Ronggowarsito, tidak ada tahun pasti yang menjelaskan.
Namun ironisnya dalam katalog Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta,
diberi catatan bahwa Paramayoga disebutkan ditulis
pada tahun 1906 M, dengan jumlah halaman 162 halaman. Padahal R. Ng.
Ronggowarsito sendiri wafat pada hari Rabu Pon tanggal 5 Dulkaidah 1802
Jawa atau 24 Desember 1873 M. Maka keterangan yang menyebutkan tahun
1906 sebagai tahun penulisan itu jelas tidak beralasan. Yang benar pada
tahun 1906 itu, Paramayoga diterbitkan oleh NV.
Voorhen H. Boening di Yogyakarta untuk pertama kalinya; atau, menurut
Poerbatjaraka, serat ini pernah dicetak pada tahun 1922 M. Selanjutnya
pada tahun 1992, Paramayoga pernah dilatinkan oleh H.
Karkono Partokusuma (Kamajaya) dan diterbitkan oleh Yayasan Centhini
Yogyakarta. Demikianlah, selanjutnya buku ini diterjemahkan dari
terbitan Yayasan Centhini itu, dengan tetap memperhatikan aslinya,
yakni terbitan NV. Voorhen H. Boening di atas. (Ronggowarsita, 2001: x-xi) Diketahui,
yang dikatakan serat yang bernama Jitapsara, karangan Bagawan Palasara
di Ngastina, yang saya ketahui tidak ada. Ada serat yang bernama
Jitapsara, tetapi serat tersebut dikarang oleh R.Ng.Ranggawarsita
sendiri. (Nanti akan dijelaskan selanjutnya). Begitu juga serat Pustaka
Darya, kumpulan kitab dari tanah Indhu, yang saya ketahui juga tidak
ada. Mengenai perihal serat-serat berbahasa Arab, tidak saya beri
keterangan sama sekali, karena sedikitnya pengetahuan saya terhadap
kitab-kitab Arab. Apakah serat-serat (kitab) Arab yang disebutkan di
dalam serat Paramayoga tadi pada kenyataannya ada atau tidak, hal
tersebut tidak akan saya jelaskan. Yang sebenar-benarnya, serat
Paramayoga ini berasal dari serat Kandha, yang sudah dijelaskan dimuka.
Serat Kandha ini oleh R.Ng. Ranggawarsita dibuat dengan berurutan,
dibangun, ditambahi, ditambahi banyak sekali. Hasil gubahan tersebut
sebagian besar didapat R. Ng. Ranggawarsita dari kisah yang diceritakan
temannya dari Belanda, C.F. Winter dan Cohen Stuart. Seperti nama-nama
yang berasal dari ilmu geografi: Laut Kaspi, gunung Kaokasus, dsb. (Poerbatjaraka, 1952: 159) Saya
ulang lagi penjelasan saya: serat Paramayoga ini berintikan serat
Kandha yang dibuat naratif disertai perubahan-perubahan, digubah
menurut pengetahuan dan kehendak R. Ng. Ranggawarsita. Serat Paramayoga
sudah dicetak menggunakan aksara Jawa pada tahun 1922. (Poerbatjaraka, 1952:160)
---------------
[1]
Soewignja,
R. Poerwa, R. Wirawangsa, D.A. Rinkes. 1920-1921. Pratelan
Kawontenaning Boekoe-Boekoe Basa Djawi (Tjitakan) ingkang Kasimpen
wonten ing Gedong Boekoe (Museum) ing Pasimpen (Bibliotheek) XXXIII. 2
jilid. REFERENCES Behrend, T.E., ed. 1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara. Jilid 1: Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Jakarta: Djambatan. Poerbatjaraka, R. M. Ng. 1952. Kapustakan Djawi. Jakarta: Djambatan. Ronggowarsito, R. Ng. 2001. Paramayoga: Mitos Asal Usul Manusia Jawa, Terj. Otto Sukatno Cr. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Serat Paramayoga: Beberapa Kutipan
Dikirim pada 06:27 am oleh [Candra T. Munawar]
Permalink
Friday, October 20, 2006
Pentingnya Studi Filologi
Oleh: Candra T. Munawar Sudah semestinya memutuskan kembali ke akar budaya sendiri, dalam hal ini menghayati kembali nilai-nilai kearifan lokal, sebagai sikap berkebudayaan terhadap persoalan semakin intensifnya nilai-nilai budaya asing yang merambah masuk ke dalam ranah budaya suatu bangsa di era globalisasi yang sedang berlangsung dewasa kini. Kearifan lokal (local wisdom) adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu bangsa di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya, yang memberikan kepada bangsa itu daya-tahan dan daya-tumbuh di dalam wilayah di mana bangsa itu berada [1]. Dalam kaitannya dengan wacana kearifan lokal, sudah selayaknya diinsyafi pula bahwa naskah lama sebagai warisan budaya (culture heritage) suatu bangsa sedemikian penting keberadaannya tatkala artefak budaya itu menjadi salah satu sumber alternatif pilihan dalam perujukan nilai-nilai kearifan lokal. Bagi bangsa Indonesia, tersedianya naskah lama sebagai sumber nilai-nilai kearifan lokal tentu saja tidak perlu lagi diragukan keberadaannya. Hal ini mengingat keberadaan naskah lama itu tersedia dalam jumlah yang sangat menakjubkan dan bermacam ragam bahan, bahasa, aksara dan kandungan isinya. Berdasar informasi yang diberikan Siti Baroroh Baried dkk. (1994:9), bangsa Indonesia pada saat ini memiliki peninggalan tulisan masa lampau dalam jumlah yang sangat besar. Tidak kurang dari 5.000 naskah dengan 800 teks tersimpan dalam museum dan perpustakaan di beberapa negara. Untuk naskah Sunda sendiri, saat ini yang terkumpul dalam berbagai perpustakaan di dunia hampir mendekati kisaran angka 1.500 buah naskah (Henri Chambert Loir & Oman Fathurahman, 1999:181). Ketersediaan naskah yang disebutkan para ahli tersebut akan bertambah semakin besar jumlahnya bila memperhitungkan juga naskah-naskah lainnya yang masih tersimpan secara perseorangan di masyarakat pendukung kebudayaan daerah setempat. Dengan demikian, maka tidaklah terlalu berlebihan bila Indonesia merupakan khazanah raksasa bagi naskah lama yang kebanyakan ditulis dalam bahasa dan aksara daerah (Haryati Soebadio, 1973:6). Agitasi di atas sejatinya ingin lebih menegaskan perihal salah satu relevansi naskah lama dengan masa kini, yaitu sebagai sumber nilai-nilai kearifan lokal. Di samping relevansinya sebagai sumber nilai-nilai kearifan lokal, relevansi naskah lama dengan masa kini dapat dilihat dari beberapa aspek yang lainnya, yaitu aspek bahasa, sastra, sejarah, agama, hukum, filsafat, politik, sosial, kesehatan, astronomi, dan arsitektur (Siti Chamamah Soeratno, 1997:12-28). Satu contoh nilai kearifan lokal yang relevan dengan masa kini, sebuah ungkapan dalam naskah Sunda lama Sang Hiang Siksa Kanda Ng Karesian, yaitu Tapa di nagara (Bertapa di tengah-tengah kehidupan sehari-hari). Bagi masyarakat suku bangsa Sunda tradisional, hidup itu sendiri adalah bertapa (ibadah). Hidup adalah menyucikan diri agar layak berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Suci [2]. Arti penting keberadaan naskah lama dilihat dari relevansinya dengan masa kini, pada hakikatnya, baru mendapatkan aksentuasinya setelah sebelumnya dilakukan studi terlebih dahulu atas naskah lama tersebut. Baried dkk. (1994:1), menjelaskan bahwa studi terhadap karya tulis masa lampau atau naskah lama dilakukan karena adanya anggapan bahwa dalam peninggalan tulisan masa lampau terkandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini. Pun menurut Achadiati Ikram [3], studi terhadap hasil warisan budaya berupa naskah adalah sebagai upaya menggali kembali kearifan sejarah masa lalu dan sekaligus memperoleh nilai-nilai historis yang berguna untuk kehidupan masa kini. Studi yang mutlak perlu didahulukan sebelum studi yang lainnya dilakukan atas naskah lama tersebut adalah studi filologi. Menurut Edi S. Ekadjati [4], studi atas naskah lama idealnya dilakukan dulu secara filologis karena ilmu yang menggarap naskah itu ialah filologi. Baru kemudian hasil suntingan filolog tersebut dijadikan obyek atau bahan studi ilmu-ilmu lain sesuai dengan jenis isi naskahnya. Hal senada diungkapkan oleh Edwar Djamaris (2002:7), suatu naskah baru boleh dibahas isinya kalau naskah yang bersangkutan sudah diteliti sedalam-dalamnya secara filologi. Sebelum studi filologi dilakukan, isi naskah itu belum dapat dipastikan kebenarannya. Boleh dikatakan, teks yang digunakan itu baru bersifat sementara, sebab tidak bisa ditutup kemungkinan, bahwa teks yang digunakan disalahartikan oleh ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli hukum, dan sebagainya. Dalam hal ini, filologi merupakan satu disiplin ilmu yang diperlukan untuk satu upaya yang dilakukan terhadap peninggalan tulisan masa lampau dalam rangka kerja menggali nilai-nilai masa lampau. Filologi dengan demikian merupakan satu disiplin ilmu yang berhubungan dengan studi terhadap hasil budaya manusia pada masa lampau (Baried dkk., 1994:2). Berangkat dari pemahaman di atas, alih-alih menihilkan sama sekali pentingnya studi filologi atas naskah lama, menaruh perhatian lebih pada studi filologi merupakan satu keniscayaan yang perlu digalakkan dewasa kini mengingat artefak budaya berupa naskah itu rentan pada kerusakan secara fisik. Sebelum kekayaan naskah lama itu terwarisi ke generasi berikutnya hanya tinggal seonggok benda yang tidak berguna selain sebagai artefak budaya yang dimuseumkan, sedari sekarang naskah lama itu kudu diteliti untuk diketahui kandungan isinya dan diselamatkan dari kehancuran dengan tindakan preservasi yang semestinya [5]. ----------------------------- [1] Saini KM. (30 Juli 2005). Kearifan Lokal di Arus Global (1). Pikiran Rakyat. Diakses 18 Juni 2006 dari: http://www.pikiran -rakyat.com/cetak/2005/0705/30/khazanah/lainnya01.htm. [2] Saini KM. (6 Agustus 2005). Kearifan Lolak di Arus Global (2). Pikiran Rakyat. Diakses 18 Juni 2006 dari: http://www.pikiran -rakyat.com/cetak/2005/0805/06/khazanah/lainnya01.htm. [3] Syamsul Huda & Purwaka, " 'Abdul-Rauf As-Sinkili: Studi Tentang Naskah Mawaiz Al-Badiah," Jurnal Penelitian UNIB, Vol. VIII, No. 2 (Juli, 2002), hal. 72-77. [4] Her Suganda, "Dr Edi S. Ekadjati: Mencari Sejarah Sunda Dengan Dua Perahu," Kompas, 1 Februari, 1994, hal. 20. [5] Perihal preservasi naskah, lihat "Khasanah Naskah Nusantara" dalam Karsono H. Saputra, ed. Tradisi Tulis Nusantara: Kumpulan Makalah Simposium Tradisi Tulis Indonesia 4-6 Juni 1996 (Tuti Munawar & Nindya Noegraha, 1997:46-51). REFERENCES Baried dkk., Siti Baroroh. 1994. Pengantar Teori Filologi. Cet. II. Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Chambert-Loir, Henri dan Oman Fathurahman. 1999. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia. Jakarta: Ecole française d'Extrême-Orient dan Yayasan Obor Indonesia. Djamaris, Edwar. 2002. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV Manasco. Huda, Syamsul & Purwaka. " 'Abdul-Rauf As-Sinkili: Studi Tentang Naskah Mawaiz Al-Badiah," Jurnal Penelitian UNIB, Vol. VIII, No. 2 (Juli, 2002). Munawar, Tuti & Nindya Noegraha. 1997. "Khasanah Naskah Nusantara". Dalam Karsono H. Saputra, ed. Tradisi Tulis Nusantara: Kumpulan Makalah Simposium Tradisi Tulis Indonesia 4-6 Juni 1996. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Saini KM. (30 Juli 2005). Kearifan Lokal di Arus Global (1). Pikiran Rakyat. Diakses 18 Juni 2006 dari: http://www.pikiran -rakyat.com/cetak/2005/0705/30/khazanah/lainnya01.htm. --------. (6 Agustus 2005). Kearifan Lolak di Arus Global (2). Pikiran Rakyat. Diakses 18 Juni 2006 dari: http://www.pikiran -rakyat.com/cetak/2005/0805/06/khazanah/lainnya01.htm. Soeratno, Siti Chamamah. 1997. "Naskah Lama dan Relevansinya dengan Masa Kini". Dalam Karsono H. Saputra, ed. Tradisi Tulis Nusantara: Kumpulan Makalah Simposium Tradisi Tulis Indonesia 4-6 Juni 1996. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Suganda, Her. "Dr Edi S. Ekadjati: Mencari Sejarah Sunda Dengan Dua Perahu," Kompas, 1 Februari, 1994, hal. 20.
Pentingnya Studi Filologi
Dikirim pada 02:29 pm oleh [Candra T. Munawar]
Permalink
|
|